Selasa, 30 Januari 2018

[REVIEW] Dilan 1990 (2018)


Jangan rindu! Berat. Kamu gak akan kuat, Biar aku saja. - Dilan 1990 
Beberapa hari belakangan ini, mungkin kata-kata diatas sering kalian lihat diberbagai Media Sosial. sebuah kata yang bisa dikatakan menjadi trending topik bahkan muncul meme yang memparodikan  kata-kata di atas.

Dilan 1990 membuka layar bioskop diawal tahun 2018 ini dengan pesona tersendiri, pesona kisah cinta remaja di era tahun 1990 dengan pengisahan yang diadaptasi dari novel yang berjudul sama "Dilan: "Dia adalah Dilanku Tahun 1990" dan saya bisa katakan film ini benar-benar mengadaptasi penuh isi cerita dari novel karya Pidi Baiq 

oke, sebelum nonton film ini bagi para kaum uzur seperti saya, harus membuka kembali pikiran anda semua. karena ini benar-benar cerita yang di ambil dari kisah cinta remaja era tahun 1990 yang di-kulik kembali dan menjadi jembatan hayal bagi generasi remaja jaman sekarang. jika kalian hanya menonton film ini dengan pola pikir yang terlalu uzur dan bergabung dengan pola pikir di era sekarang seperti umur saya dan anda semua, maka hanya ada kata yang 'mungkin' akan selalu muncul dari pikiran kalian : "gombal, lebay". so, nikmati saja setiap kisah yang ada di film ini sembari mengulik lagi cerita indah masa SMA Tempo Doeloe
Review

manisnya kisah cinta Milea dan Dilan membuat Falcon Pictures dan Max Pictures terniat untuk menjadikannya sebuah film. diangkat dari novel karya Pidi Baiq berjudul Dilanku 1990 film dilan sukses menggeprak layar lebar ditanah air

kisah Dilan dan Milea dimulai dengan perkenalan tak biasa mereka di sebuah SMA di Kota Bandung di tahun 1990, saat Milea yang berasal dari Kota Jakarta pindah ke Kota Bandung. perkenalan yang tak biasa itu lah yang akhirnya membuat Milea pun hatuh hati dengan Dilan


Dilan dikisahkan sebagai sosok yang pintar, baik dan romantis. ia selalu punya cara sendiri untuk mendekari Milea. Meski cara bicaranya terdengar cukup kaku, tapi sanggup membuat Milea menjadi penasaran dengan sosok Dilan. namun, momen perkenalan mereka harus terganggun dengan kehadiran Beni yang merupakan pacar Milea yang tinggal di Jakarta.
dari plot diatas, memang film ini berjalan seperti biasanya film remaja pada umumnya, hanya saja saya patut apresiasi kepada Pidi Baiq yang mampu menampilkan gaya bahasa yang mampu diterima oleh berbagai kalangan, khususnya remaja. gaya romantis Dilan yang bisa dikatakan 'gombal' mampu di ubah dengan gaya bahasa yang benar-benar menampilkan bahasa romantis dan tidak asal-asalan.

kekuatan gaya bahasa yang di tampilkan itu lah yang menjadikan novel Dilan 1990 menjadi best seller, bagi kaum perempuan pastinya haha XD. karena setelah mengubah pandangan tentang film ini, memang benar. film ini memang ditujukan untuk para remaja perempuan yang mengharapkan lelaki seperti Dilan yang mampu melakukan hal sederhana namun membuat Milea seperi menjadi Perempuan istimewa, tingkah konyol, dan usaha pendekatan Dilan kepada Milea benar-benar unik dan beda dari pada yang lain sampai saya sempat bertanya didalam benak saya. "apa benar sosok Dilan ini memang ada?" ahhh... tapi sudahlah, seperti yang saya bilang di awal tadi, nikmati saja kisahnya

film dimulai dengan tidak terburu-buru, terkesan santai namun pasti untuk masuk ke bagian plot inti cerita, perkenalan tokoh dan penyampaian cerita disampaikan dengan gaya yang juga santai, boleh dibilang tidak jauh bedanya dengan apa yang ada di novel. hanya saja saya sedikit terganggu dengan perpindahan tiap scene disepertiga akhir film entah karena terjadi kesalahan dalam editing, atau untuk mengejar berakhirnya cerita dalam film tapi kembali, dengan penyampaian cerita yang ringan, saya rasa hal itu bisa dimaklumi

Tokoh Utama


Iqbal Ramadhan sebagai Dilan

diawali Pro dan Kontra atas terpilihnya Iqbal Ramadhan untuk memerankan sosok Dilan menjadikan juga ia sebagai pendongkrak pemasaran film ini, ya apa lagi kalau bukan fans dari Iqbal sendiri, namun juga saya akui saya cukup terkesan dengan akting anak muda yang terkenal karena tergabung kedalam Boy band yang sempat booming beberapa tahun lalu ini, seolah ia ingin membuktikan cibiran yang menganggap ia tidak cocok dalam memerankan sosok Dilan. tapi kembali, ia mampu membuktikan kemampuannya dalam berakting.

Vanesha Precilla sebagai Milea

sosok Milea yang digambarkan didalam Novel sebagai sosok remaja yang cantik, membuat Vanesha begitu mencuri perhatian. ketepatan tokoh memang menjadi kunci pasti dalam penokohan didalam film. sama hal-nya dengan Iqbal yang memerankan sosok Dilan, Vanesha juga membuktikan bahwa ia mampu memerankan Milea didalam film ini.

rasanya ingin sekali lebih menjabarkan beberapa tokoh lain didalam film ini, namun rasanya sulit, karena tokoh lain seperti hanya 'pelengkap' dalam pengadeganan dalam setiap scene. kembali lagi bahwa memang film ini hanya berkutat pada kisah cinta antara Dilan dan Milea.
Dilan menjadi pembuka layar lebar yang sangat ditunggu tahun 2018 ini, dan sukses akan penyampaian cerita, dibalik pro dan kontra yang beranggapan bahwa ketidakcocokan pemeran utama seperti didalam novel, namun itu hanya debu kecil yang langsung terbang seiring suksesnya Dilan 1990 ketika pertama kali diputar di layar lebar.

so, Dilan 1990 sangat saya rekomendasikan bagia kalian para remaja yang masih ingin tahu apa itu yang namanya cinta masa SMA dan juga tidak memungkinkan para orang dewasa juga punya andil besar dalam kelanjutan film ini guna mengenang kembali kisah SMA di era 90-an



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau baca yang mana?

Popular Articles

ELITE?

Expresikan - Lampiaskan - Imajinasikan - Tekadkan.