Jumat, 08 Desember 2017

[REVIEW] AJIN - Demi Human, penuh aksi sesuai ekspektasi


SINOPSIS: Seorang siswa sekolah menengah menyadari dia adalah seorang Ajin, manusia setengah mahluk supranatural . Dia akhirnya menjadi buronan dalam pelarian karena kekuatannya.

Kalau Anda mengikuti perkembangan industri film Jepang beberapa tahun belakangan ini, pastinya tahu upaya sineas jepang mengekor Hollywood / Marvel untuk membuat adaptasi live-action dari manga dan anime yang populer, dan hasilnya cukup "bervariasi". Jadi kami cukup penasaran (namun tetap low expectasion) untuk menyaksikan film Ajin live-action ini. Ternyata, ini menjadi 109 menit yang cukup menghibur di bioskop.

Ajin: Demi-Human merupakan serial manga tentang evolusi generasi manusia baru yang mana tidak bisa mati, dan sikap sebagian masyarakat yang menganggap mereka sebagai "monster". Serial ini terhitung cukup sukses karena telah melahirkan tiga film anime, dua season serial anime, dan sekarang menjadi film live-action.

Kisah Ajin berpusat pada tokoh bernama Kei Nagai, seorang anak muda yang sekarat setelah tertabrak truk, menemukan bahwa dia ternayta adalah Ajin. Yaitu seorang manusia yang segera bangkit setelah kematian, sekaligus regenerasi kerusakan pada tubuhnya seaca total.

Setelah identitasnya terungkap, Kei segera diburu oleh masyarakat yang memandangnya sebagai spesies yang berbeda sama sekali tanpa hak asasi manusia. Pelariannya menemukan dia dengan Satō, Ajin lain yang penuh dendam dan ingin menguasai dunia.

wajah anak kos di akhir bulan ketika keuangan menipis
Sejauh ini, cerita dalam serial manganya telah melewati tiga insiden besar yang melibatkan Satō;

1. Penyelamatan Kei dari fasilitas penelitian
2. Penghancuran sebuah bangunan dengan pesawat terbang (dan bentrokan berikutnya dengan pasukan polisi khusus Jepang)
3. Serangan di sebuah bangunan bisnis besar.

Film live-action Ajin mengambil kejadian 3 insiden besar paling berkesan ini dan menyesuaikan cerita serta settingnya di sekitar 3 kejadian tersebut. Yang pada akhirnya menjadikan film ini penuh aksi dari menit awal dengan selingan dialog untuk menyambung aksi selanjutnya.

Akibatnya, banyak detail yang berubah dari cerita aslinya.
1) Kei adalah seorang koas rumah sakit, bukan seorang siswa SMA.
2) Satō menjadi pria muda dan bukan usia lanjut.
3) Bangunan yang hancur oleh pesawat terbang itu bukan bukanlah gedung perusahaan Grant. Pharmaceutical,  melainkan gedung Kementerian Kesehatan, Perburuhan, dan Kesejahteraan Jepang.
4 ) Bangunan terakhir dimana Kei & Tozaki memasang jebakan untuk Sato bukanlah bangunan perusahaan keamanan, namun merupakan markas perusahaan farmasi yang melakukan eksperimen pada Ajin untuk menciptakan gas beracun yang ingin dilepaskan Sato di Tokyo.

Namun, terlepas dari perubahan-perubahan tersebut, film Ajin ini berhasil mempertahankan plot dan aksi yang tetap seru sehingga perbedaan tersebut menjadi tidak penting.

Mummy? Sand man? bukan, ini Ghost yang dimiliki oleh tiap Ajin sedang duel
Salah satu bagian paling menarik dari Ajin adalah adegan actionnya dan kreatifitas dalam mengeksplorasi kemampuan ajin yang dapat me-reset dirinya sendiri ketika sekarat, boleh dibilang film ini berhasil memanfaatkan aspek tersebut sepenuhnya.

Pertempuran bersenjata api antara Satō dan pasukan yang berusaha menangkapnya benar-benar menarik. Dengan penembakan dan bunuh diri yang terus-menerus (reset), Sato seakan menjelma menjadi seorang John wick dalam versi yang kurang terampil, namun sama-sama mematikan. Brutal dan stylish.

Meski unggul dalam sisi action, kelemahan film ini ada pada plot dan karakter. Tak satu pun dari karakter tersebut benar-benar tumbuh atau mengalami perubahan signifikan sepanjang film. Dari segi plot, ada beberapa pertanyaan yang tidak dijawab atau dicuekin. Tapi meskipun begitu, sisi actionnya sendiri cukup menghibur sehingga penonton bisa tetap enjoy hingga akhir film.

orewa tsuyoi!
Selain perubahan setting dan plot, film live-action Ajin pada dasarnya sama seperti serial manga nya. Film dimulai dengan Kei yang sudah dalam tahanan dan kemudian diselamatkan, dan berakhir dengan pertarungan antara Kei dan Satō. Banyak scene yang rasanya seperti duplikat dari ilustrasi  manganya dan berhasil di-eksekusi dengan sangat keren. Tidak heran, karena adegan laga dalam film ini diarahkan oleh tim yang sama yang membuat film live-action Ruroni Kenshin, jadi mereka sudah sangat berpengalaman membuat aksi-aksi yang menarik dengan angle dan gerakan kamera yang spektakuler namun tetap bisa diikuti mata kita dengan nyaman.

Pada akhirnya, film live-action Ajin berasa seperti film blockbuster ala Hollywood. Lebih tepatnya seperti salah satu film yang tidak diunggulkan namun ternyata memberikan tontonan yang menghibur. Rasanya tidak salah bila membandingkan film ini dengan "John Wick", film dengan plot yang agak "maksa" namun memiliki segudang aksi spektakuler di sepanjang film.

Kesimpulan: Jika Anda mengharapkan popcorn movie for fun, you will have a great time! selain itu pemeran wanita nya juga cakep-cakep & bening kok, kawaii!






1 komentar:

Mau baca yang mana?

Popular Articles

ELITE?

Expresikan - Lampiaskan - Imajinasikan - Tekadkan.