Senin, 09 Oktober 2017

[Review] Blade Runner 2049



Hal pertama yang Anda perhatikan tentang film Blade Runner 2049 adalah SUARANYA!!. Ibarat air, suaranya membasahi Anda, seperti ombak pasang yang lembut, bergulung ke tubuh Anda, menyelimuti Anda (Puitis Mode: ON) haha.. memang benar adanya, didalam film ini kita akan di suguhkan dengan backsound yang menawan. Seperti tipe suara yang masuk ke otak Anda, sangat merasuki perasaan saat menonton tapi juga sangat menghibur.
Ketika gambar pertama muncul di layar tancap, ehh.. maksudnya layar bioskop, tampilan monokromatik yang indah yang bergema selaras dengan suara yang simfonik, namun saat itulah saya langsung berpikir Blade Runner 2049 membuktikan betapa berbedanya film ini dibandingkan film edisi 1982. Alur cerita yang berjalan mulus bersanding dengan kualitas film di era modern sekarang ini.
(awas spoiler!!)
Film yang bercerita tentang tentang dunia yang keras (masa depan) di Los Angeles di mana terdapat makhluk rekayasa genetika berbentuk manusia dewasa yang secara visual diciptakan oleh Perusahaan raksasa Tyrell. walaupun Penggunaan makhluk replika dianggap terlarang di Bumi dan mereka secara eksklusif memproduksi dan dipekerjakan di wilayah berbahaya di lokas-lokasi tanpa koloni di planet lain. Replika ini justru menentang larangan tersebut lalu kembali ke Bumi yang kemudian diburu dan dibunuh oleh para petugas polisi khusus.
Dilihat dari sedikit sinopsis diatas memang film ini mempunyai cerita yang sedikit berat dan sulit untuk dimengerti.. sama sulitnya untuk mengerti cewek yang bilang, "gak apa-apa"..
Merinding sobb!! XD
Inilah masalahnya di Blade Runner 2049, di film ini secara khusus, Tidak menampilkan plot terlalu banyak. Ada teka-teki yang diselipkan ke dalam setiap percakapan yang keluar dari setiap scene. Ini adalah tugas para penonton untuk menyusun setiap teka-teki tersebut sehingga akan mengerti alur cerita film dari awal sampai habis. jika anda kurang fokus dalam mononton film ini, saya jamin akan banyak pertanyaan di otak anda tentang film ini.. dan saya tidak akan menjelaskan terlebih jauh alur cerita film ini, bukannya tidak ingin. tapi saya tidak mau mengganggu kenikmatan Anda untuk menonton film Blade Runner 2049.
(c)doi: kamu kemarin pergi kemana?
Sebagai gantinya, saya akan berfokus pada apa yang membuat Blade Runner 2049 memiliki pengalaman yang nyata, emosional dan memika, yaknit: suara dan sinematografi yang menakjubkan saat film ini diputar Musik adalah bagian paling mendukung dari Blade Runner 2049. Ini tidak hanya menentukan suasana, yang jika diibaratkan mampu merubah dari seorang pecinta musik heavy-metal menjadi pecinta heavy rotation! Oi.. oi.. oii.. XD setiap musik mengisi celah yang terbentang di dalam film. dibandingkan dengan Blade Runner (1982), Blade Runner 2049 peng-adegan-an terasa lebih lambat, setiap Dialog dilengkapi dengan suara intense panjang dancure yang menjadi terdengar lebih keras setiap detiknya. (c)google.image Musik di Blade Runner 2049 memiliki pengaruh yang sangat penting. Pada saat yang paling ringan, musik berperan menampilkan Blade Runner 2049 untuk menimbulkan rasa kepanikan dan ketakutan yang sebenarnya di dalam diri Anda. Ini menciptakan efek klaustrofobia yang sangat epic (sumpah, istilah klaustrofobia ini saya ambil di mbah Google, kalo Anda bingung cek aja artinya apaan XD). oke lanjutttt... Pada Blade Runner 2049, musik membuat semua yang terjadi di layar terasa lebih menakutkan, meski tidak ada yang benar-benar mengerikan tentang hal itu, mulai dari beberapa detik pertama dalam film, sampai akhir film.. Satu-satunya aspek film yang patut dipuji sama halnya dengan musik di film ini adalah sinematografi. Seperti Blade Runner (1982), Blade Runner 2049 menampilkan masa depan yang bermasalah, mengubur keindahan dibaliknya. mulai Warna pudar yang menyelubungi papan reklame di jalanan, sampai kota-kota yang hancur dan Nada monokromatik yang sesuai dengan kesuraman orang-orang yang tinggal di gang sempit. begitu menampilkan fantasi.
(c)google.image
Direktur Denis Villeneuve dan sinematografer Roger Deakins berhasil menciptakan sebuah dunia yang memberi penghormatan pada apa yang dilakukan Ridley Scott pada film edisi tahun 1982. Pengaruh Scott amat penting, terukir pada di setiap sudut, tapi arahan sempurna milik Villeneuve. memang pada paruh ketiga atau masa konflik pada film tampak seperti di terkesan secara terburu-buru dan membuat saya sedikit lostdalam menyusun kembali apa yang sudah di tampilkan dari awal film tapi kembali musik dan sinematografi sangat gila sehingga kekurangan itu bisa tertutup secara rapi. setelah itu jangan lupa, dari musik yang membahana, sinetografer yang epic juga di dukung oleh aktor yang sangat sangat sangat sangattttt.......!!
Mendukung pada apa yang sudah diarahkan oleh sang Director Ryan Gosling (wkwk land) ehh.. salah maksudnya (la la land) XD, begitu sangat mendalami peran di film ini, aktor gaek Harrison Ford mejadi pendukung sekaligus bumbu penyedap dalam perannya. serta.. aktor sekaligus penyanyi favorit saya Jared Leto seperti membayar lunas akan kegagalan dirinya dalam memerankan the prince of crime: The Joker. jadi, jangan lupa luangkan sedikit waktu anda untuk menonton film ini, di layar tancap didekat kelurahan Anda XD. Dan rate untuk film ini adalah.... *jeng jeng jeng jeng..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau baca yang mana?

Popular Articles

ELITE?

Expresikan - Lampiaskan - Imajinasikan - Tekadkan.