Rabu, 06 September 2017

[REVIEW] Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 2



Sudah hampir setahun lalu sejak Warkop DKI Reborn rilis di kancah perfilman Indonesia, film yang film yang dibuat untuk melestarikan grup lawak legenda Indonesia ini berhasil menasbihkan diri sebagai film paling laris sepanjang masa indonesia hingga di tonton sampai 5 penonton!

Lalu bagaimana dengan Part 2 ???? yang baru rilis minggu lalu

Langsung saja, 

di part 2 ini adalah bagian ke-2 dari cerita tentang tiga polisi (alias Chip) yang wajib membayar ganti rugi akibat ulah mereka sendiri, yang sebagian besar unsur komedinya adalah hasil daur ulang dari film-film versi jadul Warkop dulu, sebagian lagi datang dari the real Indro Warkop yang tampil pake kostum konyol. Lalu kita di paksa untuk untuk duduk di bioskop, nyatetin setiap kebodohan dan kekonyolan yang muncul di layar bioskop. jujur enggak sabar hati ini ingin mencemooh semua ke-absurd-an akan keterpaksaan setiap scene komedi yang di tampilkan, Karena kita bahkan kalian akan menemukan banyak ke-absurd-an itu, sebab film ini memang diniatkan untuk penuh oleh kekonyolan. Malahan saya heran, kenapa orang-orang masih memerlukan review untuk film-film komedi konyol seperti ini.

Jadi saya akan menyimpulkan dengan cara yang sederhana terlebih dahulu. 

Jika kalian ingin cari jawaban apakah Warkop Reborn Part 2 ini adalah film yang bagus? maka jawabannya adalah 

enggak. 

Tapi jika kalian mampir ke bioskop bareng teman ataupun keluarga untuk mengisi akhir pekan, film ini pantas untuk ditonton,


(c)kapanlagi.com
Warkop DKI Reborn : Part 2 ini sedikit lebih berisi, sebab kita langsung tahu apa motivasi Dono, Kasino, Indro. 

Mereka tidak sekedar traveling melakukan hal-hal mindless. Membuka film dengan persis serial tv jadul, literally dengan tulisan “episode sebelumnya” disertai cuplikan film sebelumnya tapi tidak keseluruhan adegan  Part 1, melainkan menegaskan bahwa Warkop DKI Reborn: Jangkring Boss memang memperlakukan Part 1 sebagai babak perkenalan. 
apa mereka tidak bisa mengemasnya menjadi satu film aja? Bukannya narasi jadi lebih efektif? 

Tentu bisa, untuk kedua pertanyaan tadi. tapi saya pikir kita sudah sama-sama tau alasan di balik mereka malah memutuskan untuk membuatnya menjadi dua. 

Jadi, Dono, Kasino, Indro, dan rekan wanita mereka Sophie terlantar di Malaysia, tas berisi harta karun yang mereka bawa ketuker sama tas seorang wanita berbaju merah. Sebelum mereka bisa mencari harta karun, mereka harus menemukan wanita baju merah tersebut. Dari mencari wanita di pantai (come on tak ada Warkop tanpa pantai!), 

pencarian mereka berlanjut ke belantara pulau paling barat Malaysia yang penuh oleh misteri dan twist (bukan Anggy Umbara jika tanpa twist heboh!)

(c)kapanlagi.com
Tidak banyak perubahan dari segi penampilan. Vino G. Bastian, Abimana Aryasatya, dan Tora Sudiro masih berusaha untuk tampil semirip mungkin dengan persona orisinal yang mereka perankan. 
Namun begitu, kali ini trio Warkop modern diberikan banyak momen untuk bersenang-senang dengan karakter yang mereka perankan. Paruh awal film memancing kebodoran dari mereka sendiri yang merespon terhadap lingkungan sekitar yang asing, anak Jakarta yang plesir ke Malaysia. Pada bagian ini, jujur saya anggap jokenya enggak tanggung-tanggung, Anggy Umbara terus mendorong batas sekonyol-konyolnya mereka bertiga. Kita melihat Kasino tumbuh payudara, manusia yang berubah menjadi dispenser, dan banyak lagi hal-hal gila semacam itu. saya suka joke wajah di pintu
(c)kapanlagi.com

karena film mengambil waktu dengan mengedepankan sisi full komedi. 
Enggak sekedar nunjukin betapa kocaknya orang kejedot pintu sampai-sampai wajahnya tercetak. Efek komputer yang dipake masih terlihat kasar, apalagi yang bagian di pantai

tokoh yang kerap "breaking the fourth wall" atau istilahnya bicara ke kamera dan nge - MASH UP ulang scene-scene dari film warkop jadul. Kasino bahkan benar-benar ngomong ke kita bahwa punchline yang dia pake “nyuri dari film dulu”.

Kali ini mereka mengambil banyak bagian dari film Warkop paling saya favoritkan; Setan Kredit. Separoh bagian akhir adalah tentang Warkop keliaran di hutan, nyasar di pulau penuh hantu (pocong pake bahasa Indonesia, kan dia dari Malaysia?), mereka memaksa adegan Indro berantem dengan pocong. Kita juga dapat bagian kocak antara Dono dengan Kuntilanak yang tergantung. Bagian Kasino ribut ama pohon, dia pakek jurus-jurus sableng film ini pun ada unsur horornya. Akan tetapi, tone cerita enggak terlalu berantem. Cerita selalu diarahkan untuk menjadi maha konyol. Ketika kita nonton film ini, fokus kita bukan lagi pada seberapa bagus, melainkan seberapa ‘ajaib’ mereka mengolah materi.

(c)kapanlagi.com
Saya suka pada apa yang mereka lakukan terhadap kata “Jangrik, Boss!”
Twist di akhir cerita merupakan permainan kata yang menarik, dan memberikan arti yang lebih terhadap judulnya. separuh terakhir film lebih seru dan kocak dibandingkan bagian awal. setelah twist, peran Indro Warkop yang asli menjadi lebih menonjol, dan kita akan mengerti peraturan yang berlaku dalam dunia film ini.

Part 2 memang lebih bagus dan seru, namun tidak benar-benar lebih bagus dari Part 1.

Pada Part 1 kita melihat film memperkenalkan trio Warkop yang baru. Walaupun karakternya enggak terlalu menonjol dan part 1 adalah awal perkenalan tokoh, kita bisa melihat film berusaha mengumpulkan narasi dari campuran film-film Warkop yang jadul.

Ketika ada yang lucu, maka hal tersebut datang dari tokoh Warkop itu sendiri, di mana mereka berusaha untuk memperkenalkan bahwa tokoh versi yang modern ini enggak kalah lucu. Sedangkan pada Part 2, dunia merekalah yang lucu. maksud saya adalah tokoh-tokoh mereka ditempatkan di dunia, di situasi yang tidak mereka tahu; di Malaysia, di hutan, di sarang penjahat yang pasukannya wanita semua, di dunia film. Dan ini seperti membuat mereka tidak lebih lucu dibanding dunia tersebut.

Merasa gak cukup dengan mengandalkan film Warkop jadul, Part 2 juga balik ke film-film jadul Indonesia yang lain hanya supaya semakin lucu didalam setiap jokenya. Kita butuh lebih untuk melihat lebih banyak adegan seperti nyanyian legendaris Andeca Andeci di mana para tokoh bersenang-senang dan menjadi diri mereka sendiri dengan mengedepankan interaksi mereka. Namun hayalan itu buyar ketika tak lama setelah itu, kita dapat adegan Kasino bermimpi mereka bertiga lagi chicken dance. Bagian tersebut entah-dari-mana, gak perlu, dan enggak benar-benar lucu.

Tapi bagaimanapun kita dibuat tertawa sepanjang durasi. Dengan banyak Scene, film ini bukan hanya sebatas melestarikan Warkop dulu, film-film klasik Indonesia pun turut serta diperkenalkan kembali lewat komedi, dan sebagai penutup saya ambil kata-kata dari jargon Film ini

"Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang" 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mau baca yang mana?

Popular Articles

ELITE?

Expresikan - Lampiaskan - Imajinasikan - Tekadkan.